Pada 19 April 2017, dua puluh hari ke depan ini akan berlangsung puncak Pilkada Jakarta putaran kedua. Kelak akan segera diketahui, siapa Gubernur dan Wakilnya yang terpilih memimpin Provinsi Daerah Khusus Ibukota ( DKI ) Jakarta untuk masa jabatan 2017 - 2022.
Jika itu bisa disebut pertarungan head to head (saling berhadap-hadapan) maka tak terhindarkan akan menaikkan dinamika politik yang penuh keketatan proses perebutan kampanye, propaganda seru, saling beradu simpati untuk sebuah elektabilatas rakyat Jakarta. Suhu politik di pasti akan memanas; namun mudah-mudahan tidak memancing kegaduhan yang mengganggu stabilitas ekonomi, politik dan sosial Ibukota Negara. Sebagai harapan itulah tekad kita, akan tetapi sebagaimana diketahui bersama bahwa kenyataan sering sering "berjarak" dengan apa yang seharusnya.
Hari-hari ini, berbagai berbagai hasil.survey mengabarkan, bahwa pasangan calon ( paslon ) nomor 3 mulai menampakkan kenaikan dan meninggalkan paslon Ahok- Jarot nomor 2. Sebutlah, misalnya pada pasca sehari sesudah debat di Metro tv, Anis - Sandi meraup 49 % sedangkan Ahok Jarot 40 %. Jika merunut pada exit poll di hari pertama selamat selepas pemungutan suara 15 Februari lalu Indikator Politik-TV One, tampil sebagai juara adalah Anis-Sandi 52,4 % dan Ahok-Jarot ketinggalan di 43,3 % saja. Stagnasi menghampiri paslon nomor 2 ini. Namun lebih sebulan kemudian, yakni pada 21 Maret 2017 yang baru lalu rupanya tetap Anis -Sandi yang unggul, paling tidak diwakili hasil debat di atas yang 49,7 % pada Anis-Sandi dan 40, 3 % bagi Ahok- Jarot. Terdapat kisaran 11 % suara yang masih melayang-layang.
Radiopanjakarta dalam survey elektabiltas untuk kedua paslon, menunjukkan juga ketertinggalan paslon nomor 2 ini justru di kandangnya: Jakarta Barat dan Utara....Meskipun swing voters menunjukkan angka yang lumayan tinggi hingga pada kisaran 20 % yang masih bisa menggoyahkan, baik untuk papslon nomor 2 maupun nomor 3. Begitupun LSI Deny JA , serupa hasilnya....yang memaparkan kemenangan bagi Anis-Sandi melewati 50 %, dengan underdecided pada kisaran 9 ,8 %...dan margin error kurang dari 3 %.
Angka-angka exit poll itu agaknya memberikan sinyal kuat kepada kubu nomor 2 Ahok-Jarot untuk lebih menggenjot upaya meraup simpati, menaikkan elektabilitas dengan segala cara dan berbagai bentuk program. Misalnya, mengerahkan kekuatan sumber daya manusia atas nama petugas partai (PDIP) Jawa Timur yang diturunkan khusus untuk Jakarta Timur yang dikenal basis paslon nomor 3. Strategi lebih mengedepankan nama Jarot dibumbui propaganda, bahwa Jarotlah nanti yang akan menjadi Gubernur dan Ahok akan dipilihkan jabatan tingkat nasional. Hal itu dilakukan sebagai langkah melawan gerakan Pilih Gubernur Muslim yang dihadapi paslon nomor 2 yang memang Cagubnagan muslim sedang bermasalah di pengadilan atas kasus penodaan agama yang secara sosiologis kurang menguntungkan.
Program yang didominasi guyuran materialistik itu, diharapkan mampu mendongkrak akseptabiltas Ahok-Jarot kearah menaikkan elektabilitasnya. Di kubu Anis-Sandi disamping meraih dukungan simbolik dari PAN yang semula pendulung berat paslon nomor 1 Agus - Silvy dan kini telah berbulat tekad memenangkan Anis- Sandi, juga agak diuntungkan dengan netralitas Partai Demokrat yang jumlah pemilihnya se Jakarta lebih dari 350 ribu pemilihnya itu. Memang tak begitu menarik sebenarnya, seberapa besar pengaruh dukungan partai politik bagi peraihan suara, akan tetapi secara simbolik tetap diperlukan. Berbeda dengan perolehan dukungan struktural dari PAN boleh dikatakan telah mantap, namun dukungan dari PPP terlihat masih mondar-mandir. PKB masih loncat-loncat. Apalagi kedua parpol yang berbasis massa Islam serupa ini, kabarnya sedang disudutkan dengan masalah semacam"kriminalisasi" dari pihak eksternal yang tidak bisa dinafikan. Sekali lagi, massa muslim dari kubu ini diyakini sudah mulai mwngarah ke Anis- Sandi. Apabila dua per tiga dari massa muslim di PPP dan PKB saja bernaumg ke paslon nomor tiga, boleh dipastikan jalan mulus kemenangan Anis-Sandi akan memudahkan meraih kemenangan.
Pengamat genit dengan acuan ketakutan pada paham konservatisme yang mengedepankan emosional dari abad pertengahan yang mereka "benci" jika terjadi pada pilkada Jakarta putaran kedua mendatang ini, sungguh merupakan malapetaka bagi paslon dua. Sebagaimana harapan tinggi bisa memenangkan sekali putaran yang kenyataannya jauh panggang dari api, di depan yang singkat ini berbagai cara yang sebenarnya oleh paslon nomor 2 , kenapa dijalankan pula. Seperti, misalnya menggunakan jalan primordial melalui ajakan yang naif: Inilah kami Islam Nusantara sambil.menghardik dan menuding Wahabi, Syiah...dan seterusnya. Belum lagi memanipulasi seakan ketidakkonsistenan PAN, PKS, PKB dan PPP yang di pilkada di luar Jakarta mendukung calon dari non muslim, kenapa di Jakarta menghatamkannya, seraya menampilkan contoh-contonya lengkap denagan nama-nama paslonnyanyang keluatan " asing tak akrab" dengan pemilih kelas menengah bawah. Ini simalakama buat paslon nomor dua yang memang di satu pihak ingin meraup suara dari kelas menengah bawah eks pemilih paslon nomor 1 yang lalu namun dipihak lain bisa diketawain oleh pemilihnya dari kelas menengah yang akibatnya bisa mendorong pemilihnya kemarin melarikan diri. Dengan alasan, kenapa rasionalitas kelas menengah dilecehkan oleh paslon nomor dua yang mengikuti aliran emosionalitas primordialistik itu ?
Jika hal tersebut di atas tak bisa dikendalikan, maka kebingungan pemilih paslon nomor 2 tentu akan merunruhkan paslon Ahok Jarot dari dalam kubunya sendiri. Serentak dengan itu banjir suara dari mantan pemilih nomor 1 kemarin tak terbentung lagi. Program bedah rumah, penyantunan bagi si sakit dengan kursi roda, membantu pembangunan fisik dan non fisik masjid dan musholla akan mubadzir ditelan oleh propaganda negatif dari pemilih kelas menengahnya sendiri.
Kemungkinan terburuk bagi paslon 2 sesungguhnya bukan karena aksi 313, pun tidak karena eksternalnya akan tetapi karena kubu paslon 2 juga menjalankan apa yang dicelanya. Meninggalkan rasionalitas sendiri.
No comments:
Post a Comment